Dalam kehidupan ini setiap kita pasti memiliki sesuatu yang sangat berharga dalam hidup ini. Bisa itu keluarga, pekerjaan, impian, atau kenyamanan yang sudah kita bangun dengan susah payah. Hal-hal itu bukan sesuatu yang salah, bahkan seringkali merupakan berkat dari Tuhan sendiri.
Namun, pernahkah kita membayangkan jika suatu saat Tuhan meminta kita untuk melepaskan hal yang paling berharga itu? Di situlah iman kita diuji. Tidak mudah untuk berkata “ya” ketika hati kita telah terikat dan melekat pada hal-hal demikian. Namun sebagai orang percaya, kita di ajarkan untuk menjadi pengikut Kristus yang setia.
Mengikut Kristus berarti menempatkan Dia di atas segalanya. Dalam Matius 10:37, Yesus menegaskan bahwa siapa pun yang mengasihi keluarga lebih daripada Dia, tidak layak bagi-Nya. Ini bukan berarti kita tidak boleh mengasihi keluarga, tetapi Yesus menuntut prioritas tertinggi dalam hidup kita.
Penyangkalan diri adalah keberanian untuk melepaskan apa yang paling berharga bagi kita ketika itu mengambil tempat Tuhan dalam hati kita. Itu bisa berupa keluarga, kenyamanan, atau impian pribadi, dan ketika kita berkata, “Tuhan, Engkau lebih utama,” di situlah penyangkalan diri terjadi.
Yesus sendiri telah memberi teladan dengan merendahkan diri dan taat sampai mati. Ia tidak hanya menuntut, tetapi juga menunjukkan jalan.
Melepaskan sesuatu yang berharga bukanlah hal yang mudah. Setiap orang memiliki hal-hal yang sangat dikasih seperti keluarga, kenyamanan, impian, atau rencana hidup. Semua itu memberi rasa aman dan kebahagiaan. Karena itu, ketika Tuhan meminta kita untuk menempatkan Dia di atas semuanya, seringkali muncul pergumulan dalam hati. Ada rasa takut kehilangan, rasa berat untuk melepaskan, bahkan keraguan apakah kita sanggup melakukannya atau tidak bisa. Namun melalui firman-Nya dalam Matius 10:37, Yesus mengarahkan hati kita pada satu kebenaran bahwa Dia harus menjadi yang terutama. Karena itu Pepyangkalan diri bukan sekadar tindakan melepaskan, tetapi sebuah keputusan untuk mengutamakan Kristus di atas segala sesuatu. Ini adalah perubahan prioritas, dari berpusat pada diri dan apa yang kita miliki, menjadi berpusat pada Kristus.
Oleh sebab itu penyangkalan diri bukan tentang kehilangan, tetapi tentang menemukan. Melepaskan yang berharga memang menyakitkan, tetapi ketika itu dilakukan demi Kristus, kita sedang masuk ke dalam kehidupan yang sejati. Sebab hanya ketika Dia menjadi yang terutama, kita mengalami kepenuhan hidup yang tidak dapat diberikan oleh apa pun di dunia ini.